,

REVIEW + RESENSI NOVEL "HELLO SALMA" by Erisca Febriani [Bukan Sekedar Cinta Monyet]




Judul : Hello, Salma
Penulis : Erisca Febriani
Penerbit : Coconut Books
Genre : Fiksi Remaja
Halaman : 384 halaman
Tahun terbit : 2018
ISBN : 978-602-5508-23-3
Harga : Rp 95.000
Rate : 🌟🌟🌟🌟
Blurb :

“Kata ‘putus’ sedemikian gampangnya keluar dari mulut kamu? Emang saya yang terus berjuang, tapi yang diperjuangin juga jangan seenaknya.” Itu kalimat terakhir yang keluar dari bibir Nathan setelah tahu Salma dengan mudah memutuskan hubungan mereka. Merasa kalau perjuangan cintanya tidak dihargai Salma, Nathan memilih pergi dan pindah ke sekolah baru karena sebuah masalah.

Kehidupan Salma sepeninggal Nathan pun terasa membosankan dan melelahkan, apalagi orangtuanya menuntut dia untuk selalu belajar agar masuk fakultas kedokteran seperti yang diinginkan ayahnya.

Sementara itu, di sekolah baru, Nathan bertemu dengan seorang gadis tertutup korban perundungan akibat status-status menyedihkan yang ditulisnya di media sosial. Rebecca, gadis itu mengingatkannya pada ibunya. Dia bertekad menyelamatkan gadis itu dari keterpurukan.

Bagaimana kisah Salma dan Nathan selanjutnya? Apakah takdir akan menggariskan tangan mereka kembali bertautan atau justru berbalik arah?


***


Halo, mbak author kembali menyapa dengan membawa segudang kebahagiaan wkwk.

Kali ini, saya mau kupas lengkap tanpa sisa novel best seller karya Erisca Febriani yang merupakan sequel dari Dear, Nathan. Apakah itu? Yup! Hello, Salma.

Sebelum menginjak bagian review, saya mau ngucapin terima kasih kepada salah satu online book store di Instagram (@pokenbooks) yang sudah ngirim paket novel ini ke rumah. Readers ku tercinta, bisa ubek-ubek akun Instagram @pokenbooks (tanpa tanda ‘@’) kalau pengen banget beli novel fisik yang original. Dijamin puas, karena packaging-nya rapi banget, dibungkus kertas kado, jadi udah kek kiriman gift dari si doi wkwk.

By the way, Hello Salma ini sudah dijadiin film. Gimana? Kalian sudah nonton belum? Kalo saya, jujur, belum nonton. Sebenernya, sudah ada niatan buat nonton, tapi nggak ada waktu luang (*sesibuk itukah saya? wkwk). Eh, pas sudah ada waktu luang, malah film-nya sudah nggak ada di bioskop. Kan jadi kesel dan ingin mengumpat, tapi ngak tau ke siapa:(

Okay, sebenernya, review Hello, Salma ini niatnya di-publish sebelum film-nya tayang. Tapi, karena ke-mager-an yang hakiki, baru bisa publish sekarang, dan tentunya setelah film-nya tayang. Astagaaaaa, maafkan saya yang nggak sesuai jadwal update dan tukang PHP ini, wahai para readers yang budiman (*heh, tapi yang penting ini udah publish kan? meskipun barusan. Jadi, cabut kata tukang PHP itu ya, haha)

Saya kira, cukup sekian basa-basi dan curhatnya.

Mari mulai review-nya.

Selamat membaca.


***


Cerita dibuka dengan ilustrasi visual dari dua tokoh utama, yaitu Nathan dan Salma. Sengaja nggak saya foto, biar kalian penasaran. Silahkan beli di toko buku offline maupun online untuk lebih jelasnya ya.

Kemudian dilanjut dengan adegan percekcokan antara Nathan dengan Dimas -anak kelas 11- di kantin belakang sekolah. Dimas yang lebih dulu memancing emosi Nathan dengan membawa-bawa nama Salma. Nathan yang tidak terima, lantas dengan gagahnya berdiri dan meninju Dimas habis-habisan.

Kejadian di kantin belakang sekolah menjadi viral dan Nathan harus menghadap Kepala Sekolah dengan ditemani beberapa temannya, Ayahnya, Ibu Dimas, serta Dimas sebagai saksi. Ibu Dimas menuntut Nathan untuk bertanggung jawab atas luka lebam yang ada di wajah anaknya. Ia juga hendak melaporkan Nathan ke pihak berwajib tatkala Nathan tidak ingin meminta maaf. Ayah Nathan yang hendak meminta maaf pun dilarang olehnya. Bagi Nathan, kejadian ini bukanlah salah dirinya. Ia tidak akan menghabisi Dimas jika ia tidak mencari gara-gara duluan dengannya.

Memangnya, apa sih yang dilakuin Dimas sampai Nathan tega membuat banyak jejak kebiruan di wajahnya? Apakah karena ada sangkut-pautnya dengan Salma? Yuk, baca novel fisiknya.


“Saya akan minta maaf kalau memang saya yang bersalah, tapi posisinya di sini dia yang salah. Saya lebih memilih pindah sekolah daripada minta maaf sama Dimas.” ... “Saya bersedia pindah, kalau itu memang keputusan finalnya,” [page 15]


Berita mengenai ulah Nathan akhirnya sampai ke telinga Salma. Bukan dari Nathan yang bercerita, melainkan Afifah -teman Salma yang doyan gosip dan sekelas dengan Nathan-. Entah apa yang ada di pikiran Salma saat itu, yang pasti dia menyalahkan dan serta merta mengungkit masa lalu Nathan atas kejadian itu. Hal tersebut sukses menohok hati Nathan, luka lamanya kembali terbuka, dan penyebabnya kali ini adalah Salma.


“Iya! Saya yang salah, saya emang selalu salah. Dari dulu selalu gitu, kamu nggak pernah mau dengerin saya. Kamu selalu menyimpulkan semuanya sendirian.” ... “Yang namanya pacaran itu harus saling ngerti satu sama lain, jangan egois.” [page 31]


Seperti dihujani oleh bom atom, perkataan Nathan tersebut nyatanya malah mendapat respon tak mengenakkan dari Salma. Salma ingin mengakhiri hubungannya dengan Nathan. Nathan sendiri kaget, dengan apa yang diucapkan oleh Salma. Jadi, readers ku tercinta, sebenarnya apa yang mendasari putusnya hubungan Nathan dan Salma ini? Benarkah hanya karena kejadian di sekolah yang menyangkut Nathan dan Dimas?


“Oke, kalau itu memang mau kamu. Saya nggak bisa maksa, daripada buat kamu nangis dan kecewa terus-terusan cuma karena satu cowok berengsek ini.” [page 32]


Salma bukanlah tipikal orang yang bisa menyembunyikan sebuah masalah. Bisa sih, tapi dia nggak sepintar dan se-ahli yang kalian kira. Akhirnya, Salma menceritakan masalahnya dengan Nathan kepada tiga orang sahabatnya, yaitu Rahma, Afifah, dan Meysha. Ketiga sahabatnya itupun berusaha menenangkan Salma. Mereka tidak ingin Salma terlalu memikirkan hal itu dan menyebabkan nilainya menurun.

Ternyata, Nathan merealisasikan ucapannya ketika di ruang Kepala Sekolah tempo hari. Ia memutuskan untuk pindah sekolah. Ia memilih SMA Taruna sebagai tujuannya. Tidak butuh waktu lama bagi Nathan untuk bisa beradaptasi dengan suasana baru disana. Sifatnya yang memang supel membuatnya langsung memiliki banyak teman.

Berbeda dengan Salma. Gadis pintar yang bawaannya selalu serius itu mulai merasakan ‘kehilangan’ atas kepergian Nathan dalam hidupnya. Nathan yang humoris, namun memiliki sisi romantis mampu membuat warna-warni hidup Salma. Itu dulu, sekarang sudah tidak lagi.

Mengingatnya, hati Salma seolah teriris. Hanya Nathan yang bisa membawanya jalan-jalan keliling kota ketika ia bosan dengan tumpukan soal-soal. Hanya Nathan yang bisa membuatnya tertawa dikala ia merasa tertekan akibat tuntutan dari ayahnya untuk selalu belajar. Kini, kehilangan Nathan membuat hidupnya gamang. Nathan yang menjadi rumah baginya ketika ia tersesat kini telah menghilang. Ya, Salma kehilangan rumahnya untuk pulang. Demi membunuh rasa bosan, kesepian dan kehilangannya itu, Salma memiliki cara lain, yaitu bermain-main dengan aksara.


“Menulis adalah caranya menuangkan emosi dan ekspresi. Dia bukan seseorang yang pintar dalam bersuara, maka tulisan adalah cara paling bijaksana menuangkan perasaan.” [page 52]


Tanpa Nathan, hidup Salma kelabu. Apalagi, ketika ayahnya meminta Salma agar mengundurkan diri dari anggota marching band karena dinilai kurang bermanfaat dan menggantinya dengan bimbel. Harapannya cukup klise, agar Salma bisa lolos SNMPTN UI Jurusan Kedokteran dan bisa menjadi dokter, seperti yang ayahnya inginkan. Sepulang sekolah, ia harus mengikuti bimbel. Belum lagi ketika di rumah, ia masih saja disuguhkan dengan tumpukan berbagai macam model soal-soal latihan, buku penunjang untuk pendalaman materi, dan lainnya yang berbau pelajaran.

Sebenarnya, jauh di lubuk hatinya, Salma ingin sekali berontak. Berontak dalam artian ia ingin mengungkapkan apa yang dirasakannya. Ia tidak ingin terus-terusan dikekang. Ia ingin bebas. Bebas dalam menentukan masa depan dan mimpinya melalui bakat yang ia miliki, tanpa harus dikomando oleh kedua orangtuanya. Sayangnya, Salma adalah anak yang penurut. Ia tidak bisa membantah ucapan orangtuanya, meski ia ingin. Yang bisa ia lakukan adalah mengalah.


“Mengalah entah untuk kesekian juta kali, sekalipun hatinya patah, retak, dan terluka.” [page 117]


Kembali lagi ke Nathan. Nathan memanglah tipikal anak badung, yang seharusnya dihindari. Namun, dibalik sikapnya itu, ia adalah sosok yang bisa memotivasi dan membangkitkan semangat hidup ‘seseorang’. ‘Seseorang’ itu adalah Rebecca, korban bullying verbal di sekolah. Bukan tanpa alasan, ia di-bully karena dinilai sangat lebay karena status-status yang ditulisnya di sosial media. Hal tersebut membuatnya depresi dan seringkali mencoba untuk bunuh diri.

Bertemu dengan Rebecca membuat Nathan seperti melihat kilas balik ibunya. Oleh sebab itu, ia ingin membantu Rebecca melawan keterpurukannya. Awalnya, kehadiran Nathan ditolak mentah-mentah oleh Rebecca. Namun, karena merasa nyaman dan aman ketika bersama Nathan, Rebecca akhirnya berniat untuk bangkit.


... To you, the strongest people ever created. Just remember, you are loved.” [page 181]


Rebecca yang mulanya pemurung, sekarang menjadi sosok yang pintar dan aktif. Ia berhasil lolos SNMPTN di Universitas Negeri Jakarta, jurusan Ilmu Psikologi. Ia bahkan mendirikan sebuah komunitas bernama “Love Yourself” yang diperuntukkan untuk mereka-mereka yang mengalami depresi. Ngomongin soal SNMPTN, apakah Salma lolos?

Ok, lanjut ya. Komunitas Love Yourself itu ternyata menjadi media yang mempertemukan dua insan yang kisah cintanya belum terselesaikan. Siapa mereka? Yup, mereka adalah Nathan dan Salma.

Bukan hanya itu, komunitas cetusan Rebecca itu ternyata mempertemukan Nathan dengan sosok laki-laki bernama Ridho. Lebih tepatnya, Nathan mengira laki-laki itu adalah pacar Salma. Sebaliknya, Salma malah mengira jika Rebecca adalah pacar Nathan. Apakah ini hanya salah paham? Siapakah Ridho itu? Kok bisa sih, Nathan dan Salma ketemu di komunitas itu? Apakah mereka berdua merupakan anggota komunitas itu? Jika iya, apa yang menjadi alasan keduanya masuk ke komunitas itu? Benarkah mereka berdua depresi akibat berakhirnya hubungan yang telah dijalani? Apakah ada alasan lain?

Lalu, bagaimanakah hubungan Nathan-Salma? Masihkah Tuhan memberikan kesempatan keduanya untuk menyelesaikan hingga akhir? Bagaimana dengan sosok Rebecca dan Ridho? Apakah mereka berniat untuk menjadi penghalang hubungan Nathan-Salma? Bagaimana akhir dari semuanya? Happy atau sad ending? Simak kisah lengkapnya hanya di novel wkwk.


“Cerita mereka berdua akan ditulis ulang, dengan ending yang belum ditentukan ujungnya. Bisa jadi memang berjodoh, atau mungkin... dipisahkan di ujung jalan. Biar nanti Tuhan dan semesta yang menentukan.” [page 378]


***


WARBYASAH! Serius ini di luar dugaan banget. Kak Eris terdeteksi punya hobi baru. Ho’oh, hobinya doyan jungkir balik perasaan orang. Sebenernya sih ya, ini novel karya Kak Eris ketiga yang pernah saya baca.

By the way, ini kenapa jadi malah ngebacot ya? Harusnya kan udah mulai milah-milah keunggulan dan kelemahan novel, ye kan? Oke-oke, mohon bersabar. Saya jeda dengan “enter” dulu untuk paragraf baru.

Done.

Sekarang, saatnya mengisi kategori keunggulan dari novel ini ya, readers-ku tercinta. Apa saja keunggulan novel Hello, Salma ini? Jawabannya ada di bawah ini :


  • Cover-nya simple dengan nuansa putih-biru. Font judul juga pas benget, ditambah aksen pesawat kertas warna biru yang kalo menurut saya sih sebagai gambaran dari surat yang berisi celotehan Nathan.
  • Alur ceritanya jelas banget. Jadi, sekali baca langsung nyambung dan nggak perlu ngulang-ngulang biar ngerti.
  • Penggambaran tokoh-tokohnya juga seakan-akan mampu menghidupkan cerita, meskipun nggak di-deskripsikan secara detail.
  • Gaya bahasa dan penulisannya juga nggak kaku. Jadi, feel-nya dapet banget gitu. Apalagi yang pas bagian mewek-mewek, kalian bisa ngerasain tuh seakan-akan jadi pemerannya. Keren nggak tuh?
  • Konfliknya ringan, dan remaja banget. Jadi, nggak belibet buat diikutin dan nggak akan bikin ngantuk.
  • Ada banyak pesan-pesan tersirat dan tersurat di dalamnya, yang bisa dijadikan motivasi atau penyemangat dalam hidup kita di dunia nyata yang terkadang pahit ini.
  • Selain itu juga ada informasi penting yang sangat dibutuhkan oleh pelajar yang menempuh jenjang akhir SMA (Kelas 12), yaitu mengenai SNMPTN, SBMPTN, dan Mandiri.
  • Petikan-petikan yang ada dalam dialog dan juga narasinya mampu membuat pembaca terbawa perasaan. Ini direkomendasikan bagi kalian yang doyan banget snapping quotes-quotes. Singkat saja, ini itu quote-able banget.
  • Ada tambahan gambar ilustrasi dua tokoh utama di beberapa part khusus yang mendukung adegan di dalamnya. Sehingga nggak terkesan monoton karena melulu berisi rentetan aksara. Jadi, kalian bisa berimajinasi dan nggak akan bosen.

Pernah dengar pepatah “Sempurna hanya milik Tuhan”? Sepertinya pepatah itu juga berlaku untuk novel Hello, Salma ini. Di samping kaya akan keunggulan, novel ini juga memiliki beberapa kelemahan. Nggak banyak sih, tapi ada beberapa, seperti :


  • Masih ada some typos. Maaf, saya lupa typo-nya ada di halaman berapa. Jadi, nggak bisa kasih contohnya. Tapi, it’s okay, karena nggak mengganggu atau merusak cerita.
  • Penempatan tanda baca kurang tepat. Kalo di poin ini, murni dari pandangan saya ya. Saya memang bukan seorang sastrawan atau ahli sastra yang paham akan penempatan tanda baca yang tepat itu gimana.
  • Masih ada penggunaan kata yang kurang pas, sehingga mengakibatkan penumpukan kata atau pengulangan kata. Sehingga terkesan kalimat itu tidak efektif.

Dari ketiga poin itu, it’s okay sih sebenernya. Typo, tanda baca, dan pengulangan kata-nya itu nggak mengganggu atau merusak imajinasi kalian ketika baca. Intinya, meskipun ada kesalahan dalam penulisan, kalian tetep bisa menikmati bacaan ini. Tim editor juga pasti sangat meminimalisir terjadinya kesalahan penulisan seperti itu. tapi ya gimana lagi, maklumin aja. Toh, tim editor kan juga manusia, yang tidak luput dari kesalahan dan bukanlah robot yang bisa 24 jam non stop bekerja tanpa lelah.

Jadi, bintang 4 sepertinya cucok meong untuk cerita ini. Sejauh saya membaca tumpukan novel fiksi remaja, Hello, Salma ini yang paling keren. Novel ini menurut saya berbobot banget. Meskipun tetap nonjolin cerita romansa, tambahan tentang dunia perkuliahan dan perjuangan untuk menempuh tes, serta mengenai depresi disajikan dengan detail, jelas, dan apik.

Nggak heran dong, kalo film ini juga worth it to watch. Jadi, siapa nih, diantara para readers-ku yang sudah nyempatin waktunya nonton Hello, Salma? Gimana ceritanya? Bagus nggak? Harus bagus dong ya. Kan novelnya masuk dalam jajaran kategori “best seller”. Kuy, yang sudah nonton film-nya, boleh dong, sharing di kolom komentar. Yang pasti, dilarang spoiler ya.

Oiya, penilaian bersifat objektif dan SAMA SEKALI tidak memiliki niatan untuk menjatuhkan atau membandingkan penulis.

By the way, buat kalian yang bener-bener penasaran level infinity sama cerita ini, dan ketinggalan alias nggak nonton filmnya, silahkan beli di toko buku terdekat atau online book store langganan. Jika ingin menghemat, silahkan meminjam ke teman atau perpustakaan. Yang penting, jangan beli novel atau e-book bajakan ya. Tolong hargai penulisnya.

Sekedar tambahan, mungkin kalian bisa baca novel Hello, Salma ini sekalian play Love Myself yang dinyayiin BTS dalam album Love Yourself : Answer. Alasannya, nggak jauh-jauh dari komunitas "Love Yourself" yang menangani depresi dalam novel ini. Dalam lagu BTS itu, kita dituntut untuk mencintai diri sendiri sebelum mencintai orang lain.

Terima kasih sudah membaca.

Silahkan tinggalkan jejak dengan membubuhkan komentar sebagai penyemangat saya untuk terus menuliskan review.

“Hidup akan terasa lebih bebas apabila ditertawakan.” [page 118]
Continue reading REVIEW + RESENSI NOVEL "HELLO SALMA" by Erisca Febriani [Bukan Sekedar Cinta Monyet]
,

REVIEW + RESENSI NOVEL "CATASTROPHE" by Melanie Jung [Berdamai dengan Masa Lalu]





Judul : Catastrophe
Penulis : Melanie Jung
Penerbit : Kubus Media
Genre : Fiksi Remaja
Halaman : vi + 302 halaman
Ukuran buku : 14x20 cm
Tahun terbit : 2017
ISBN : 978-602-61000-3-0
Harga : Rp 75.000
Rate : 🌟🌟🌟🌟
Blurb :

“This is more than jus a nightmare.”

Arella Rabella, menganggap dirinya sendiri sebagai sebuah malapetaka dalam kehidupan, karena apa yang terjadi di masa lalu maupun apa yang terjadi sekarang ini.

Terlebih lagi, saat Arella membawa malapetaka di kehidupan seorang Ferrel Ghio Ravaro—cowokyang sulit mengekspresikan diri pasca trauma, yang sudah muak dengan segala kesialan yang selama ini selalu menimpa dirinya.


***


HALO!! APA KABAR?

Setelah sekian lama vacum dari dunia tulis menulis, saya kembali lagi dengan membawa sejuta kebahagiaan wkwk. *apa sih, garing bat.

Sebelumnya, saya ucapkan terima kasih banyak kepada Penerbit Kubus Media yang telah mengadakan event giveaway saat Hari Kartini bulan lalu, dan menyatakan saya sebagai salah satu pemenang yang berhak mendapatkan satu novel terbitan KM. By the way, Catastrophe ini adalah novel kedua terbitan Kubus Media yang saya baca setelah SIN.

Saya pertama kali tau tentang karya-karya Kak Melanie ini di wattpad. Dia adalah salah satu penulis wattpad hits dengan user @greek-lady. Waktu itu saya, baca dan add library “Cewek Kalong”, karena masih belum tertarik baca Catastrophe hihi. Hingga pada akhirnya, saya mendapat rekomendasi novel Catastrophe dan Vapor yang sama-sama ditulis Melanie Jung dengan title penerbit yang sama, yaitu Kubus Media.

Dan kali ini, saya diberi kesempatan untuk mengulas novel Catastrophe lebih dulu.

Selamat membaca!


***


Catastrophe. Apa yang ada di benak kalian ketika mendengar kata tersebut? Dalam Kamus Bahasa Inggris, kata Catastrophe memiliki arti “malapetaka”.

Bagi Arella Rabella, malapetakanya adalah ketika tidak sengaja menabrak sebuah BMW berwarna putih tulang di hari pertamanya bersekolah. Parahnya, mobil itu adalah milik sang most wanted boy yang juga merampel sebagai kapten basket SMA Dirgahayu. Dia bernama Ferrel Ghio Ravaro, si cowok dingin yang irit ngomong dan tidak bisa mengekspresikan diri.


“Lo,” katanya dengan rahang mengeras. “Ganti rugi.” [page 7]


Ferrel adalah satu dari sekian banyak cowok dingin yang hari-harinya membosankan. Sekolah,  makan, main, tidur, kurang lebih seperti itu dan selalu saja begitu. Namun, ia juga harus bersyukur karena dipertemukan dengan tiga orang gila yang telah ditakdirkan oleh Tuhan untuk menjadi temannya. Mereka adalah Sandi, Jordan, dan Fellix.

Pagi itu, ia sengaja mengirimkan pesan pada Sandi untuk menjemputnya dan berangkat ke sekolah bersama. Mengingat mobilnya masih di bengkel dan motor sportnya kehabisan bensin. Saat sampai di lorong sekolah, ia bertemu dengan Arella dan menagih utangnya.


“Lagian anak sekolah aja gaya-gayaan bawa mobil mahal segala.” [page 21]


Karena dirundung kesal akibat utang, Arella berniat untuk melampiaskannya pada cowok peritungan, yakni Ferrel. Ia berhasil mempermalukan Ferrel dengan menghujaninya dengan uang receh dan dua ribuan kusut. Aksi nekatnya itupun semakin membuat Ferrel naik pitam.


“Utang lo nambah. Mempermalukan gue, dua kali lipat.” [page 25]


Ferrel tidak sengaja menemukan jam tangan milik Arella -yang katanya memiliki sejarah tersendiri-. Di waktu bersamaan, ia membuka e-mail dari seseorang di masa lalunya (sebenarnya sudah lama, namun baru ia buka) untuk mengikuti balapan. Tidak ingin orang tersebut menjadi pendampingnya saat balapan, Ferrel mengajak Arella untuk menggantikan posisi seseorang itu dengan imbalan akan mengembalikan jam tangan milik Arella. Arella menyetujuinya, asalkan jam tangan itu kembali padanya.


Lain halnya dengan Ferrel yang bertemu dengan orang-orang gila, Arella justru dipertemukan dengan tiga bidadari Dirgahayu bernama Marissa, Hana, dan Lisa. Banyak yang menilai bahwa geng Marissa adalah untuk kalangan high class, karena mereka mainnya mahal.


“Emangnya gue gak boleh apa main sama mereka yang mainnya mahal, mentang-mentang gue punya utang sama lo?” [page 89]


Hari dilaksanakannya balapan pun tiba (ini balapan resmi ya, karena juga ada sponsornya). Ferrel membawa Arella ke sirkuit balap dan memperkenalkan pada teman-temannya. Tanpa diduga, ia malah bertemu dengan masa lalunya.


“Kenalin, ini Arella. Cewek gue.” [page 107]


Realita memang tak selalu berjalan mulus sesuai dengan ekspektasi. Ferrel belum mampu untuk kembali lagi ke arena balap. Trauma mendalam yang masih berkaitan erat dengan arena balap membuatnya enggan menginjak pedal gas. Arella yang belum mengenal Ferrel sepenuhnya hanya bisa menenangkannya. Dan dari sinilah, Ferrel bisa melihat sisi yang lain dari Arella yang cerewet dan tidak tau malu. Tanpa mereka sadari, pada titik itulah malapetaka dua insan ini dimulai.


Siapakah sosok yang menyebabkan trauma mendalam bagi Ferrel di arena balap? Kejadian seperti apa yang sudah terjadi di masa lalu yang membuat Ferrel seperti itu? Apakah Arella mampu membangkitkan lagi rasa keberanian Ferrel?


Sifat pengertian Arella membuat Ferrel nyaman. Ia sendiri merasa khawatir dengan keadaan Arella yang saat itu sedang sakit. Ia merasa Arella memiliki sebuah trauma. Rasa khawatir dan pedulinya menggerogoti setiap relung hatinya dan membuat Ferrel kelimpungan sendiri. Kemudian, ia memutuskan untuk bertanya pada ketiga temannya perihal perasaannya.

Arella ternyata menyembunyikan fakta dari Ferrel bahwa dia mengidap suatu penyakit yang bisa saja berakibat fatal. Sandi yang mengetahui perihal penyakit itu pun memberitahu Ferrel. Ferrel merasa sakitnya Arella disebabkan oleh kesalahan dirinya. Arden -adik Arella- yang mendengar hal itu pun ingin melampiaskan kekesalan dan kemarahannya pada Ferrel, namun ia urungkan atas pemintaan sang kakak. Ferrel dengan rasa bersalahnya, meminta maaf karena telah membahayakan nyawa Arella. 


“Lo gak pernah minta maaf. Tapi, ini kali keduanya lo minta maaf dengan sungguh-sungguh sama gue.” [page 154]


Keadaan Arella semakin membaik. Hal tersebut juga berlaku dalam hubungannya dengan Ferrel. Tanpa diduga, Ferrel dengan entengnya meminta izin kepada Pricill -Mama Arella- untuk menjadikan Arella sebagai pacarnya.


“Bakalan munafik kalo Mama ngelarang, karena dulu Mama juga pacaran.” [page 180]


Sekali lagi, realita berbanding terbalik dengan ekspektasi. Ferrel mengira bahwa hubungannya dengan Arella akan baik-baik saja. Namun, siapa sangka jika sebuah takdir ternyata mampu menyayat hati kedua insan tersebut? Inilah si Catastrophe yang menjadi puncak dari isi novel ini.


Silahkan membaca novel versi cetaknya, untuk mengetahui penyebab trauma Ferrel di arena balap, penyakit berbahaya Arella, dan takdir menyakitkan yang dihadapi keduanya.

Selamat penasaran!


***


Ada beberapa hal yang saya masukkan dalam kategori keunggulan novel ini, diantaranya adalah sebagai berikut :

  • Dari segi fisik, saya menyukai covernya. Berwarna merah dengan huruf C yang tercetak di tengahnya dengan aksen retak-retak dan terlihat seperti bulan sabit.
  • Tidak menjual judul. Hanya ada kata “Catastrophe” di bagian depan dan tulisan Melanie Jung @greek-lady dibawahnya. Jika dibalik, kalian akan menemukan kalimat “This is more than just a nightmare” yang akan menyedot kalian ke dalam malapetaka.
  • Tidak menitik beratkan pada dialog manis kedua tokoh utamanya. Bisa kalian temukan, beberapa dialog receh dan ambigu milik teman-teman Ferrel yang akan menghibur kalian.


“Ampun, Bang. Jangan paksa aku menatap matamu yang tajam itu. Aku belum siap tuk jatuh cinta lagi.” [page 36]



  • Jangan lupakan tokoh Arden, yang menjadi sosok adik super dingin dengan segala pesonanya yang bahkan diakui sendiri oleh kakaknya, yaitu Arella. Dialognya disajikan dengan super unyuk dan bisa biki ketiwi. HAHA!

“Pala lo keras bat kayak batu.” [page 132]

  • Konfliknya ringan dan simple. Jadi, cocok untuk pembaca yang nggak suka konflik belibet.
  • Kata-katanya “jaman now” banget. Jadi, mudah dipahami.
  • Penambahan ilustrasi tanda telepon, room chat, dan beberapa tanda yang ada di wattpad (seperti tanda views, vote, dan comment) serta gadis kecil yang sedang menaiki ayunan berbentuk love memberikan kesan unyu-able.
  • Tidak mengandung unsur romansa berbau mature, sehingga SANGAT AMAN untuk dibaca. Namun, ada beberapa umpatan khas anak sekolah yang dilontarkan kepada teman dekatnya, yang perlu di-filter untuk pembaca dibawah umur.
  • Penyertaan maksud dari Bahasa Sunda yang tercantum. Sehingga orang luar yang tidak paham dengan Bahasa Sunda tetap mengerti.
  • Ada extra part bernama Hidden Chat yang berisi rentetan chat grup dari geng Ferrel dan Arella. Unik dan lucunya, kedua grup ini malah membahas tentang salah satu drama Korea yang lagi booming saat itu, sebut saja Goblin.

Disamping itu, masih ada beberapa hal yang sangat disayangkan dari novel ini, diantaranya adalah :
  • Karena konfliknya yang ringan dan simple, membuat alurnya mudah sekali ditebak. Di point ini, mungkin pendapat tiap orang berbeda ya. Pendapat ini murni menurut saya pribadi, yang notebenenya adalah penyuka novel dengan tingkat konflik yang lumayan ribet dan tidak tertebak.
  • Kurang quote-able. Hal ini sangat disayangkan dalam penyajian novel ini, karena kebanyakan pembaca menyukai novel karena quotes-quotes pembukanya. Tapi, point ini bisa diatasi dengan penjabaran narasinya, yang beberapa diantaranya bisa dijadiin quotes.
  • Masih ada some typos, seperti pengulangan kata yang menyebabkan pemborosan, penekanan spasi yang tidak pas, peletakan tanda baca yang tidak sesuai. Ini juga bersifat objektif kok, terlebih di kalimat peletakan tanda baca yang tidak sesuai. Itu menurut saya pribadi ya, tapi bisa dimaklumi, penulis dan editor adalah manusia yang memiliki rasa letih. Jadi, typo itu wajar karena nggak mengganggu.

Over all, saya menyukai cerita ini. Saya memberikan rate 4 bintang untuk “malapetaka” yang ditulis oleh Kak Melan ini.

Penilaian bersifat objektif dan SAMA SEKALI tidak memiliki niatan untuk menjatuhkan penulis.


So, is it an amazing story, and you must read it.

Thank you.
Continue reading REVIEW + RESENSI NOVEL "CATASTROPHE" by Melanie Jung [Berdamai dengan Masa Lalu]
,

REVIEW + RESENSI NOVEL "FEEL REAL" by Radin Azkia [Permainan Takdir Gilang]


Judul : Feel Real
Penulis : Radin Azkia
Penerbit : Gagas Media
Genre : Fiksi Remaja
Halaman : vi + 430 halaman
Ukuran buku : 13x19 cm
Tahun terbit : 2017
ISBN : 978-979-780-891-4
Harga : Rp 90.000
Rate : 🌟🌟🌟🌟
Blurb :

“Sandiwara lo, tuh, buat apa?”

“Siapa yang sandiwara? Gue lagi nggak sandiwara. Lo masih nggak bisa liat apa yang lagi terjadi sekarang?”

Setelah mendengar perkataan Gilang, dahi Gatari mengerut. Ekspresi wajahnya perlahan berubah bingung.

“Lo pikir kita ngapain disini? Makan-makan cantik?” Gilang memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. “Lo nggak liat gue disuruh serapi ini buat siapa?”

Gatari semakin bingung. Jangan-jangan... ah, nggak mungkin!
Gue nggak hidup di zaman Siti Nurbaya!

“Buat lo!” sembur Gilang meninggi tepat di depan wajah Gatari. “Buat orangtua lo!”

Bibir Gatari yang terkatup perlahan terbuka. Namun, tidak ada suara yang terdengar dari mulutnya. Perempuan itu menatap kedua mata Gilang sambil berusaha menjaga keseimbangan tubuhnya agar tetap bisa berdiri dengan sepatu sepuluh sentimeter.

“Selamat, Gat. Harapan lo untuk nggak berurusan sama gue lagi, hilang malam ini juga.”

Malam itu mengubah hidup Gatari selamanya. Ia tidak habis pikir, orang tuanya tega menjodohkannya dengan Gilang, si pembuat onar di sekolah. Bagaimana bisa? Hanya kata-kata itu yang memenuhi kepalanya. Sampai kapan pun ia tidak akan pernah menerima dan memaafkan Gilang, laki-laki yang sudah mempermalukannya di depan teman-teman sekolah, dengan mendaratkan bibirnya di wajah Gatari.

***

HALO! Apa kabar? Masih ada yang nunggu update-nya blog ini? Terima kasih karena sudah menunggu. Melelahkan ya? Yang namanya menunggu pasti melelahkan, menyakitkan dan menyesakkan wkwk.

Okay, jadi untuk kalian yang sudah menunggu, selain mengucapkan beribu kata terima kasih yang teramat tulus dari dalam lubuk hati, saya membawa cerita Gilang Aidan untuk dibagi dan dinikmati bersama kali ini. Judulnya Feel Real, karya mbak-mbak Universitas Brawijaya bernama Radin Azkia. Gimana blurb-nya? Bikin penasaran kan? Sama, saya juga (pas belum beli).

Sebelum ke bagian review-nya, saya ingin mengucapkan terima kasih banyak kepada grobmart, karena sudah mengirimkan paket novel ini ke rumah dengan selamat. Btw, saya beli ya, bukan dapet giveaway atau gretong alias gratis, apalagi endorse wkwk.

Okay, daripada berbacot ria, mending kita langsung aja kupas tuntas Feel Real ini. So, simak dan baca ulasan-nya di bawah ini ya.

***

“For the things I can not undo.” [page 2]

Cerita dibuka dengan pertemuan antara dua tokoh utama, yaitu Gilang dan Gatari di lorong sekolah. Gilang yang baru saja keluar dari ruang BK dengan ditemani seorang pria berjas hitam. Sedangkan Gatari, ia keluar dari perpustakaan, membaca buku sambil berjalan. Tiba-tiba saja, Gilang tidak sengaja menabrak Gatari hingga perempuan itu menjatuhkan buku yang ada di tangannya. Tanpa mengucapkan kata maaf, Gilang langsung saja pergi meninggalkan Gatari yang masih sibuk memandangi dengan penuh rasa heran dan penasaran.


“Itu, kan, anak baru yang berantem sama Kak Joshua? Dia dipulangin?” [page 6]


Waktu berjalan dengan begitu cepat. Tidak terasa, sudah setengah tahun lamanya Gilang bersekolah di SMA Parama Bangsa. Dengan jangka waktu itu, ia sudah sering sekali mencatatkan namanya ke dalam daftar anak-anak bermasalah. Seminggu setelah kepindahannya, ia dipanggil karena berantem dengan kakak kelas. Dua bulan kemudian, ia dipanggil lagi karena ketahuan merokok, kemudian bolos selama seminggu penuh. Ia bahkan pernah dihadapkan dengan kepala sekolah karena melawan guru. Terakhir, ia hampir tidak naik kelas karena nilainya pas-pasan.

Hari itu, Gilang kembali membuat keributan di lorong sekolah. Bukan dengan kakak kelas atau teman sebaya laki-laki, melainkan dengan seorang perempuan bernama Diva. Diva tidak sengaja menumpahkan minumannya hingga mengenai seragam dan esai milik Gilang. Gilang yang merupakan makhluk temperamen, tentu saja tidak terima. Ia memarahi Diva habis-habisan hingga membuat Gatari -teman Diva- geram sendiri.

Gatari hadir di tengah keributan yang diperbuat Gilang. Gilang tidak suka jika ada orang yang ikut campur urusannya. Gatari tidak peduli, yang menjadi fokus utamanya saat itu adalah membawa Diva pergi dari hadapan iblis berwajah tampan, bernama Gilang. Perbuatan Gatari tersebut sukses memancing emosi Gilang. Dengan sekali gerakan, Gilang berhasil menarik kerah seragam Gatari. Kemudian, mendaratkan bibirnya di bibir Gatari. Hal itu membuat semua pasang mata yang ada di tempat kejadian membulat. Dan, dunia Gatari yang tenang pun berubah dalam sekejap mata.

Di hari yang sama, tepatnya saat malam hari, Gilang dan Gatari kembali dipertemukan. Kali ini, bukan kebetulan, mungkin bisa disebut paksaan atau mungkin permainan takdir yang sudah diatur oleh Tuhan melalui acara makan malam. Gatari tidak tahu-menahu tentang maksud dan tujuan dari acara makan malam itu. Ia tidak nyaman dengan situasi tersebut, kemudian memutuskan untuk pergi ke toilet -tentu saja itu alibi-. Tanpa diketahui, Gilang mengikutinya dari belakang.

Melihat keberadaan Gilang, Gatari benar-benar lelah. Jujur, kejadian memalukan di sekolah membuatnya benci dengan sosok Gilang. Ia bersumpah tidak akan melibatkan dirinya dalam urusan Gilang, atau sebaliknya. Namun, sebuah pernyataan mengejutkan keluar begitu saja dari mulut Gilang. Pernyataan yang membuat ketenangan hidup Gatari hancur. Pernyataan yang berusaha ia hindari. Pernyataan yang semakin membuatnya membenci Gilang. Apakah pernyataan itu?


“Selamat, Gat. Harapan lo untuk nggak berurusan sama gue lagi, hilang malam ini juga.” [page 31]


Di sekolah, semuanya baik-baik saja, Gatari masih tetap saja ketus kepada Gilang. Gilang meminta Gatari agar merahasiakan ‘sesuatu’ yang ia ucapkan semalam, dan Gatari menyetujuinya. Sudah setting-an Tuhan mungkin, karena lagi-lagi Gilang dan Gatari diharuskan beriringan kembali. Kali ini, dengan embel-embel pulang bareng karena sopir Gatari tidak bisa menjemput dan juga langit sedang tidak mendukung alias mendung.


“Heh, lo bakal sering ketemu gue. Jadi, harus baik-baik sama gue! Siapa tau, kita beneran jodoh.” [page 37]


Gatari bosan di dalam mobil Gilang. Ia butuh musik untuk menyegarkan pikirannya. Ia membuka dashboard mobil, berniat mencari headset milik Gilang. Tanpa sengaja, ia malah menemukan ‘barang terlarang’ di dalamnya. Gilang yang lagi-lagi merasa terusik atas tindakan Gatari pun membentaknya. Gatari yang merasa kaget dan bersalah at the same time pun hanya diam, menundukkan kepalanya.

Usai kejadian di mobil itu, Gilang dan Gatari sama-sama diam. Di sekolah, di kelas pun juga saling mendiamkan, dan malah terkesan berjauhan. Saat bel pulang pun, Gatari akan langsung menuju halte depan untuk menunggu jemputan. Tiba-tiba ia tidak sengaja menabrak seorang laki-laki tampan seusianya di depan gerbang sekolah. Dan yang tidak diduga, laki-laki menanyakan sebuah nama yang akhir-akhir ini selalu saja berurusan dengan Gatari. Siapa lagi, kalau bukan Gilang. Jadi, siapa cowok ganteng itu, guys? Apakah dia jodohmu? Atau malah jodohku? Wkwk. Lalu, kenapa dia nyariin Gilang? Temukan jawaban lengkapnya hanya di novel fisiknya.

Sabtu malam, adalah hari paling menyebalkan bagi Gilang. Hari itu ia mendengar sebuah permintaan bodoh dari kedua orangtuanya. Permintaan bodoh yang membuatnya frustasi dan akhirnya menginjakkan kaki di sebuah club malam bersama dengan teman-temannya, yaitu Eki, Evan, dan Rafi sampai dini hari.

Di hari minggu pagi, waktunya Gatari bermalas-malasan. Namun tidak untuk kali ini. Pagi-pagi ia sudah bangun, mandi dan mengikuti sarapan bersama dengan keluarganya. Awalnya, ia benar-benar menikmati hidangan di depannya. Sampai sebuah ucapan yang dilontarkan ayahnya, membuat dirinya tidak lagi nafsu untuk menyantap makanan di depannya. Tenggorokannya kering, mulutnya tidak bisa berkata-kata. Pikirannya berputar kembali di waktu malam, tepatnya acara makan malam bersama itu. It’s true.

Jadi, apa sih sebenarnya permintaan bodoh itu? Kenapa bisa bikin dua insan anak Adam dan Hawa ini sebegitu frustasinya?

Untuk kesekian kalinya, lagi-lagi Gilang dan Gatari dipersatukan kembali. Dengan embel-embel yang berbeda pastinya. Dan kali ini, adalah untuk tugas kelompok pelajaran seni. Kecanggungan yang melanda keduanya membuat tugas seni itu tidak terselesaikan dengan cepat. Apalagi, satu anggota lainnya sedang dirawat di rumah sakit. Sehingga, mau tak mau, Gatari harus menyelesaikannya berdua dengan Gilang.


“What kind of fate is this?” [page 65]


Waktu silih berganti. Tak terasa, sudah sampai di hari H sebuah acara yang tidak diinginkan oleh sepasang anak Adam dan Hawa ini. Hari dimana seluruh ketenangan hidup keduanya mulai ternoda. Hari dimana semuanya benar-benar berubah. Hari dimana Gilang mendaratkan ciumannya pada Gatari untuk yang kedua kalinya demi membuat panas hati seorang perempuan berpawakan tinggi semampai yang notabene pernah menjadi serpihan masa lalu Gilang. Namanya, Attaya.

Tindakan yang diperbuat Gilang ternyata memancing kemarahan Evan -sahabat Gilang-. Ia melayangkan bogeman mentah tepat di wajah Gilang. Ia benar-benar kecewa dengan apa yang dilakukan Gilang. Ia paham betul maksud dan tujuan Gilang melakukan hal itu. eki dan Rafi hanya diam saja. Mereka berpikir, Gilang memang harus ‘disadarkan’, setidaknya agar ia tahu kalau Gatari bukanlah perempuan yang tepat untuk dijadikan pion permainan.

Di tempat lain, di ruangan yang gelap, Gatari berusaha mati-matian untuk melenyapkan perasaan asing yang muncul di dalam dirinya. Ia ingin sekali menampar Gilang sampai tangannya kebas untuk melampiaskan amarahnya. Namun, ternyata rasa asing itu menyeruak, membuat dirinya hanya bisa diam dan menunggu permintaan maaf dari Si Pembuat Masalah a.k.a Gilang.

Gilang frustasi. Ia kembali menginjakkan kakinya di sebuah club dengan meminum empat gelas alkohol. Musik yang berdentum sangat keras tidak mengusiknya sama sekali. Yang ia inginkan adalah menghilangkan beban berat di pundaknya. Ia butuh ketenangan dan kesenangan dalam satu waktu.


“I’m sorry.” [page 109]


Seiring dengan perputaran waktu, Gilang dan Gatari mulai bisa  memahami satu sama lain. Hubungan keduanya lumayan dekat, lebih baik dari sebelumnya. Gilang mulai mengenal Gatari, lebih tepatnya melihat sisi lain dari gadis jutek yang selalu membuatnya kesal itu. Begitupun dengan Gatari, ia juga bisa melihat sisi malaikat Gilang, si cowok bebal yang suka bikin onar. Entah apa yang mendasari kedua insan itu untuk saling membuka luka lama, yang pasti, hari itu, malam itu, di dalam mobil yang ditepikan, di bawah langit malam keduanya saling bercerita akan masa lalunya.


“She didn’t choose me.” [page 169]


Siapa yang menyangka, di tengah-tengah membaiknya hubungan Gatari dengan Gilang, malah datang sesosok manusia yang pernah berhasil menjadi alasan bahagia Gatari. Namanya Arkan. Gatari yang melihat sosok itu setelah bertahun-tahun menghilang tanpa jejak dan tanpa kabar lantas limbung. Gilang yang bisa menerka melalui bahasa tubuh Gatari akhirnya mencairkan suasana tegang diantara mereka. Kemudian, ia menarik tangan Gatari pergi, menyelamatkannya dari lubang hitam masalalunya.


“Come on, we’re not eating here.” [page 187]


Gatari sungguh bingung akan perasaannya terhadap Gilang. Terlebih, ketika Gilang seringkali membuat hatinya melayang, lalu kemudian dijatuhkan. Ia tidak tahu, apakah perasaan asing itu hanya hadir dalam hatinya saja atau pada Gilang juga? Yang pasti, Gatari merasa ia sedang dipermainkan oleh Gilang.


“Why did you do that? Why did you hold my hand? Why did you sleep with it the whole night? Why did you smile at me? Why did you call me earlier? You are so not you.” [page 209]


Setelah melayangkan pertanyaan itu, Gatari bukannya lega, melainkan ia kaget bukan main. Jawaban yang keluar dari mulut Gilang justru membuatnya enggan mendengar. Dan, tanpa Gilang sadari, Gatari menjauhinya. Memberi jarak terhadap kedekatan yang sudah mulai terbangun diantara keduanya.

Belum lagi, perihal sebuah rahasia terbesar Gilang yang terkuak akibat Avicena -cowok ganteng yang pernah ketemu sama Gatari-, yang berhasil membuat Gatari benar-benar kecewa dan menyesal pernah bertemu dengan Gilang. Sebuah rahasia yang membuat Gilang mati-matian menjelaskan alasannya pada Gatari. Sebuah rahasia yang menjadi dasar sebuah pengakuan mengejutkan dari Gilang terhadap Gatari. Sebuah rahasia yang membuat Gatari tak lagi mampu untuk menerima takdir jika keduanya disandingkan. Rahasia itu, adalah awal kekecewaan Gatari terhadap Gilang, dan berujung saling berjauhan.

Tidak hanya itu, Avicena atau sebut saja Sena, lagi-lagi membuat Gatari ragu terhadap Gilang. Gatari ragu terhadap pengakuan Gilang yang menggetarkan hatinya. Sena, adalah orang pertama yang berhasil membuat hati Gatari ragu akan kehadiran sosok Gilang dalam hidupnya. Satu hal yang tidak orang tau, yaitu tujuan dari Sena membuat semuanya abu-abu. Tujuan yang sebenarnya sangat mulia untuk Gilang dan Gatari. Apakah itu?


“It’s funny how you broke my heart before I give it to you.” [page 398]


Setelah mendapat banyak pencerahan dari sahabat-sahabatnya, baik Gilang maupun Gatari sama-sama kembali membuka hati. Keduanya bermaksud untuk menyudahi keabu-abuan hubungannya. Namun, lagi-lagi ada saja kendalanya. Jadi, bisakah mereka menyelesaikan masalahnya? Mampukah mereka beriringan kembali untuk masa mendatang? Bagaimana akhir kisah mereka? Mampukah keduanya sama-sama mengalah pada ego dan gengsi masing-masing? Lalu, bagaimana hubungan keduanya dengan para masa lalunya? Kali ini, biar novel yang menjawab rasa penasaran kalian wkwk.


“I’m so afraid my feeling’s getting bigger and what if I can’t take control? I’m so afraid because you loved her so much and I just don’t want to get hurt again.” [page 426]


***

Sebagai rekomendasi, silahkan play lagu “Feel Real” dari Deptford Goth ketika membaca, agar lebih terasa dan ‘ngena’ banget. Okay, jadi kita mulai memasuki segmen penilaian keunggulan dan kelemahan ya ini? Nah, kali ini, saya akan share apa aja yang jadi keunggulan dalam novel Feel Real ini.

  • Covernya eye-catching, menarik, simple, dan Indonesia banget. Kenapa saya bilang Indonesia banget? Karena covernya ini didominasi oleh warna merah dan putih. Udah kayak bendera kebangsaan kan? Oiya, mau bahas sedikit nih tentang warna covernya. Merah identik dengan berani, yaa maybe ini menggambarkan sosok Gilang yang nggak kenal takut alias pemberani. Mulai dari berani tonjok-tonjokan sama kakak kelas, ngelawan guru, berani bikin skandal, sampe berani deketin dan perjuangin hati kamu, eh Gatari maksudnya wkwk. Dan, warna putih itu bisa dibilang warna yang suci. Jadi, putih mungkin cocok untuk karakter Gatari yang nggak ‘neko-neko’, dan hidupnya taat dengan aturan.
  • Tidak menjual judul. Kenapa gitu? Karena judul yang tertera benar-benar bisa menjabarkan isi cerita. Feel Real sendiri mempunyai arti benar-benar terasa. Nah, ini langsung menjurus ke Gilang dan Gatari, guys. Apalagi dengan tambahan tagline yang berbunyi “Kamu mampu mengubah apa yang pernah ada, dan memberinya makna”. WOW! Itulah alasan kuat kenapa saya naksir berat sama novel ini.
  • Bahasa yang digunakan nggak baku alias ringan. Jadi, kesannya itu nyantai, sehingga cocok untuk dibaca pas lagi senggang.
  • Gaya penulisan yang disajikan oleh penulis mampu menghidupkan cerita. Jadi, feel-nya terasa banget. Saking terasanya, kalian bisa senyum, kesel, baper, jatuh cinta lagi, nangis, dan lainnya at the same time.
  • Alurnya jelas dan nggak belibet kayak benang layangan. Aslinya sih, alurnya nggak bisa ditebak. Tapi, karena ini adalah novel-wattpad, dan versi wattpad saya sudah baca, jadi saya bisa menebak. -meskipun nggak semuanya benar, tapi bisa diterkan-. Kalau belum baca versi wattpad, jelas nggak bisa menebak. Rasain lo HAHA.
  • Penyuguhan dan permainan kata untuk dialog-nya manis banget. Kembang gula aja kalah wkwk. Saking manisnya, bisa bikin senyum-senyum dan baper sampe didiagnosa kena diabetes. HAHA.
  • Konfliknya remaja banget, dan semuanya terselesaikan dengan urutan yang ‘apik’. Jadi, nggak ada yang gantung, kayak hubungan kamu sama doi, eh wkwk.

Dari beberapa poin keunggulan novel di atas, masih ada beberapa yang perlu ditinjau, diantaranya adalah sebagai berikut :

  • Harganya terlalu mahal untuk ukuran bacaan anak SMA yang doyan jajan seperti saya. Tapi, itu bisa diakali, dengan menggunakan voucher diskon ketika ada event-event tertentu, seperti Hari Buku Nasional, Hari Baca Nasional, Hari Kartini, Harbolnas, dll.
  • Beberapa dialog menggunakan kalimat Bahasa Inggris. Jadi, pembaca yang berusia dibawah 15 tahun kadang masih suka bingung dengan maksudnya. Mereka jadi harus buka-tutup kamus demi tau apa maksud kalimatnya. Dan sebenernya sih, dengan begitu, mereka bisa nambah kosa kata baru, ya kan? Untungnya, saya paham dengan maksudnya, dan itu bisa untuk keperluan snapping. HAHA.
  • Mengandung rude words untuk kepentingan cerita. Jadi, anak-anak dibawah umur dilarang baca ya. Tonton aja kartun Tayo wkwk.


Over all, bintang 4 pas kayaknya buat karya keren Radin Azkia ini. Penilaian bersifat objektif dan SAMA SEKALI tidak memiliki niatan untuk menjatuhkan atau membandingkan penulis.

Terima kasih sudah membaca.

Silahkan tinggalkan jejak dengan membubuhkan komentar sebagai penyemangat saya untuk terus menuliskan review.


“Sometimes you have to accept things whether you like it or not.” [page 302]
Continue reading REVIEW + RESENSI NOVEL "FEEL REAL" by Radin Azkia [Permainan Takdir Gilang]
,

REVIEW + RESENSI NOVEL "DOUBLE A" by Iolana Ivanka [Sebuah Ujian Bagi Adrian]



Judul : Double A
Penulis : Iolana Ivanka
Penerbit : Penerbit Inari
Genre : Fiksi Remaja
Halaman : vi + 330 halaman
Tahun terbit : 2017
Ukuran buku : 13x19cm
ISBN : 978-602-6682-10-9
Harga : Rp 74.000
Rate : 🌟🌟🌟🌟
Blurb :

Anna terjebak di tengah-tengah saat berita tentang Tiara, sahabatnya, sedang pacaran tersebar di seantero sekolah. Anna diminta oleh Tiara untuk pura-pura pacaran dengan Adrian, pacarnya. Alasannya, karena Bu Rahma, ibu Tiara sekaligus guru di sekolah mereka, melarang Tiara pacaran.

Meski enggan, akhirnya Anna menyanggupi meskipun dia menilai Adrian itu bukan cowok baik-baik. Baru meng-iya-kan, Anna sendiri ketimpa musibah.

Karena pekerjaan, ayah Anna dititipkan ke sahabat ayahnya. Sialnya, anak dari sahabat ayahnya adalah Adrian.

Anna dan Adrian akan tinggal serumah! Ini PETAKA!

***

“Double A” ini adalah novel pertama terbitan Inari yang saya baca. Awalnya, saya tidak terlalu excited dengan novel ini. Tapi, ketika searching di google dan baca blurb-nya, entah mengapa rasa penasaran langsung menguar dalam diri saya.

Penyajian blurb-nya mampu menarik saya ke dalam cerita. Seakan-akan saya ikut terjun menjadi tokoh cerita. Menariknya lagi, tokoh yang menjadi “kambing hitam” dalam cerita ini sedikit menyentil tepat di ulu hati saya. Saya sendiri tidak pernah terlibat dalam hal semacam ini, tapi saya pernah menemui dan dicurhati oleh seorang teman yang berada dalam hiruk pikuk hubungan seperti Anna-Adrian-Tiara.

Jadi, sebagai obat penasaran saya akan cerita ini, saya memutuskan membelinya. Hanya butuh waktu satu hari untuk menyelesaikan bacaan ini. Dan, kalian harus tau, bahwa cerita yang disuguhkan dalam novel ini benar-benar LUAR BIASA.

Beli kurma saat Ramadhan,
Sirup juga jangan lupa
Kalo kamu penasaran,
Yuk! Marilah dibaca

***

Cerita ini dibuka dengan artikel yang diterbitkan oleh Komunitas Jurnalis di SMA Cakrawala tentang hubungan backstreet Tiara dan Adrian. Tidak butuh waktu lama untuk menjadikannya hot news, karena semua berita pasti akan diunggah di web komunitas jurnalis dan dapat diakses oleh siapapun, termasuk guru-guru.

Kemunculan berita tersebut membuat Tiara panik setengah mati. Ia dan Adrian telah tertangkap basah oleh salah satu anggota jurnalis sekolahnya saat sedang jalan berdua. Pasalnya, hubungan yang dijalani oleh keduanya ini backstreet, karena orangtua Tiara tidak mengizinkannya berpacaran. Terlebih, ibu Tiara adalah salah satu guru yang mengajar di sekolah yang sama dengannya. Alhasil, demi menyelamatkan dirinya, hubungannya dengan Adrian, dan nama baiknya, Tiara meminta bantuan kepada Anna -sahabatnya- untuk menjadi pacar pura-pura Adrian.

Awalnya, Anna dan Adrian sama-sama menolak. Namun, Tiara terus-terusan memohon hingga akhirnya Adrian pasrah dengan ide gila pacarnya itu. Jujur saja, dalam hatinya, ia ingin hubungan keduanya tidak sembunyi-sembunyi lagi dan bisa diketahui dengan cara yang baik oleh kedua orangtua Tiara. Kekesalan dan amarahnya memuncak ketika Anna -sahabat Tiara- menyetujui ide tersebut.


“Kalian emang yang terbaik,” [page 14]


Tak disangka, sebuah pernyataan mengejutkan keluar dari mulut Tiara. Sebuah pernyataan yang berhasil membuat jantung Anna nyaris berhenti. Sebuah pernyataan yang paling semua orang benci. Sebuah pernyataan yang berkutat dalam rasa dan berpotensi menjadi luka.

Jadi, pernyataan seperti apakah itu? Apakah kalian juga membencinya? Atau, apakah kalian sedang menjalaninya? Temukan jawabannya hanya di novel “Double A” yang bisa kalian dapatkan di toko buku terdekat atau online shop langganan kalian.


“Jadi alesan lo buat minta gue jadi pacar pura-pura Adrian bukan karena lo takut nyokap lo tahu?” [page 28]


Untuk pertama kalinya, Anna dan Adrian makan di meja yang sama saat di kantin. Jangan tanyakan ini ulah siapa, tentu saja Tiara. Sikap Adrian yang acuh pada Tiara membuat Anna kesal. Anna menganggap bahwa Adrian tidak memperlakukan Tiara dengan baik dan hal itu sukses membuat Adrian meradang.


“Lo itu cuma orang luar. Nggak usah ikut campur. Jangan mentang-mentang lo ini sahabat Tiara, lo punya hak buat masuk ke dalam hubungan kita dan ngedikte apa yang harus gue lakuin dalam hubungan ini.” [page 44]


Dalam novel ini, ada tiga keluarga yang diperlihatkan, tapi yang paling menonjol adalah hubungan Anna dan Ayahnya. Hanya berdua saja, karena ibunya meninggal kala Anna masih SMP. Hal itu membuat Anna dan Ayahnya sangat dekat. Mereka seringkali menghabiskan waktu liburan bersama, mengunjungi makam sang Ibu setiap hari ulang tahunnya, atau berbincang saat luang.

Kedekatan keduanya menjadi siksaan berat ketika sang Ayah ditugaskan ke Makassar selama setahun. Anna yang sudah terbiasa bersama sang Ayah meminta untuk ikut ke Makassar. Namun, sang Ayah melarang.

Pada akhirnya, Erga -ayah Anna- menitipkan Anna pada sahabatnya, karena meninggalkan seorang gadis sendirian di rumah terlalu beresiko. Bagi Anna, dunia memang sempit. Ternyata, sahabat Ayahnya yang akan menjadi keluarga sementara Anna setahun ke depan adalah orangtua Adrian. Itu artinya, ia akan tinggal serumah dengan Adrian. What the fyuhh!!


“Ini anak saya yang seumuran sama kamu. Namanya Adrian.” [page 52]


Memang, rasa nyaman muncul karena terbiasa. Anna dan Adrian makin hari makin dekat. Tiara yang mengetahui kedekatan Anna dan Adrian jadi uring-uringan. Entah siapa yang membuat ulah, sekolah kembali dikejutkan dengan perilisan artikel baru mengenai Tiara. Artikel yang membuat Adrian marah besar pada Tiara. Artikel yang menjadi awal kebencian Tiara terhadap Anna. Tiara yang diselimuti oleh amarah dengan mantap mendeklarasikan kebenciannya terhadap Anna. Ia menganggap bahwa Anna mengkhianatinya dengan merebut Adrian.


“Lo bukan sahabat gue. Nggak ada sahabat yang nusuk sahabatnya dari belakang.” [page 185]


Tiara, yang ternyata memiliki sisi jahat menyebarkan gosip dan membocorkan satu hal kepada salah satu anggota komunitas jurnalis. Artikel baru pun dirilis dan langsung menjadi trending topic di sekolah. Sebuah artikel yang membuat Anna-Adrian dibenci, dicaci, di-bully, dan selalu sendiri.

Adrian yang selalu acuh terhadap apapun tidak merasa terganggu. Namun, entah karena apa, ia jadi mengkhawatirkan Anna. Ia tidak ingin Anna terluka. Satu-satunya cara yang bisa dilakukan Adrian adalah menemui anggota komunitas jurnalis yang merilis artikel tersebut dan meluruskan jalan ceritanya.


“Yang pertama, apa komunitas jurnalis kasih tau apa alasan kami tinggal bareng? Nggak. Kenapa? Karena mereka juga nggak tahu apa alesannya. Yang kedua, apa komunitas jurnalis berusaha buat cari jawabannya? Nggak. Kenapa? Karena yang mereka pikirin itu Cuma keeksisan web mereka aja. Harusnya komunitas kayak gitu bisa jadi wadah positif buat orang-orang yang mau terjun di dunia hiburan. Seharusnya komunitas jurnalis itu ada buat mengungkap kebenaran, kan?” [page 213]


Masalah yang dihadapi oleh Anna dan Adrian tidak hanya sampai disini. Masih ada lagi ulah Tiara yang membuat planning masa depan Adrian hancur. Masalah seperti apakah itu? Yang jelas, ini terlalu jahat untuk ukuran anak SMA *menurut saya sih ya.


“Say goodbye to your dream, Dri.” [page 256]


Ulah Tiara kali ini memang tidak bisa ditoleransi. Anna yang mengetahuinya pun lantas meluapkan amarahnya tepat di depan muka Tiara, disaksikan oleh Adrian juga. Detik itu, Adrian dan Tiara sama-sama kaget melihat sisi lain dari Anna ketika benar-benar marah, kecewa, kesal, dan lainnya.


“Apa yang lo lakuin itu bener-bener rendah, Ra. Lo orang terendah yang pernah gue temuin.” [page 258]


Tuhan memang selalu menghadirkan masa-masa susah sebelum datang masa-masa senang. Anna lulus dengan nilai rata-rata cukup bagus dan berhasil diterima di Singapore Management University. Anna berhasil mewujudkan mimpinya dan orangtuanya. Berbeda dengan Anna, Adrian lulus dengan nilai yang pas-pasan.


“Orang yang pintar bisa kalah sama orang yang tekun. Orang yang tekun juga bisa kalah sam orang yang beruntung. Lo bisa jadi orang yang tekun atau orang yang beruntung itu. If you give up, you will regret it forever, Dri. Nggak ada salahnya buat mencoba, kan?” [page 265]


Tanpa diduga, Adrian justru meminta Anna untuk tidak mengambil beasiswa kuliah di Singapore itu. Lantas, apa yang dilakukan Anna? Menyerah pada impiannya atau meninggalkan Adrian? Bagaimana kelanjutan hubungan Adian dan Anna? Haruskah berhenti begitu saja? Mampukah keduanya mempertahankan hubungan ketika otak dan hatinya berjalan tak saling beriringan?


“I’m sorry because I broke our promise. I’m sorry because I lied to you.” [page 325]


***

FINALLY!! Review berakhir dan saatnya untuk mengisi kategori keunggulan dan kelemahan dari novel “Double A”. Kita mulai dari keunggulannya ya.


  1. Covernya lucu dan keyword-able karena benar-benar menggambarkan keseluruhan cerita. Ada kertas, pensil, gadget, foto dua pelajar dari belakang, kamera, dan penggalan artikel.
  2. Bahasa ringan, kids jaman now banget. Jadi, mudah dipahami.
  3. Konfliknya nggak terlalu berat. So, direkomendasikan untuk kalian yang doyan baca tapi nggak mau puyeng.
  4. Tidak menitikberatkan pada unsur percintaan, karena dipadukan dengan persahabatan, impian, keluarga dan perjuangan. Jadi, nggak terkesan monoton dan nggak akan bosen.
  5. Penggambaran karakternya jelas. Saking jelasnya, sampe saya pribadi jatuh cinta dengan Adrian, pengen neriakin Anna biar sadar, dan jedotin pala Tiara ke tembok biar otaknya rada bener.
  6. Ada banyak kalimat yang bisa dijadikan tips juga motivasi buat kalian yang lagi ngejar beasiswa di dalam atau luar negeri.
  7. Ada beberapa rekomendasi judul lagu dan buku yang bisa kalian nikmati. Kalo lagu ya, silahkan download. Kalo buku ya, silahkan beli atau yang paling enak sih ya pinjem  wkwk.

Disamping itu, ada beberapa hal yang saya sayangkan, diataranya :


  1. Penyelesaian konflik terkesan terburu-buru dan dipotong agar cepat selesai. Tapi itu nggak mengganggu sih sebenernya.
  2. Kejahatan yang dilakukan tokoh antagonis terlalu berlebihan untuk ukuran anak SMA. Saya jadi penasaran, adakah sosok kayak Tiara di muka bumi ini?
  3. Harganya terbilang mahal untuk ukuran pelajar yang doyan jajan seperti saya huhu  Mengingat novel ini tidak terlalu tebal. Tapi, asli sih, meskipun harganya gabisa dijadiin sahabat, tetep aja kalian dapet suguhan bacaan yang bener-bener “berbeda” dari lainnya.

Over all, saya menyukai cerita ini dan bersedia memberikan rate 4 untuk mahakarya milik Iolana Ivanka ini. Novel ini worth it banget untuk dibaca remaja labil yang masih menjadikan sebuah hubungan atau pacar sebagai pembatas mimpi.

Penilaian bersifat objektif dan SAMA SEKALI tidak memiliki niatan untuk menjatuhkan penulis.

Tetaplah jadi generasi muda Indonesia yang suka membaca.
Continue reading REVIEW + RESENSI NOVEL "DOUBLE A" by Iolana Ivanka [Sebuah Ujian Bagi Adrian]
,

REVIEW + RESENSI NOVEL "MELODYLAN" by Asriaci [Ketika Hati Tidak Bisa Memilih]




Judul : MeloDylan
Penulis : Asriaci
Penerbit : Coconut Books
Genre : Fiksi Remaja
Halaman : 328 halaman
Tahun terbit : 2017
ISBN : 978-602-6940-67-4
Harga : Rp 89.000
Rate : 🌟🌟🌟🌟🌟
Blurb :

Bukan sakitnya yang membuatku menderita.
Tapi bekas luka itu yang membuatku
Terlalu sakit untuk mengingatnya.

***

Melody mempunyai masa lalu yang buruk dengan mantan pacarnya. Hal itu yang membuatnya pindah dan berusaha menjauh dari segala hal yang melibatkan dia dengan masa lalunya. Melody terus menghindari setiap masalah yang terjadi di dalam hidupnya, dia tidak pernah menyelesaikan masalah itu secara tuntas karena keraguan dan ketakutan yang ada di dalam dirinya.

Dylan cowok yang selalu membuat masalah, dia senang dengan masalah-masalah yang terjadi di dalam hidupnya, apapun yang dia lakukan pasti menimbulkan masalah. Setiap masalah membuat Dylan merasa warna-warni dan lika-liku dalam hidup itu nyata adanya.

Pertemuan keduanya bukan tanpa alasan, saling tarik-menarik dan berbeda paham satu sama lain. Tapi, mampukah keduanya menyesuaikan dengan karakter dan sifat yang berbeda dalam suatu ikatan yang disebut cinta?

***

Sebelumnya, saya mau ngucapin terima kasih banyak kepada hari libur panjang yang telah jatuh dan ditetapkan tanggalnya. Terlepasnya saya dari belenggu tugas-tugas yang numpuknya nggak elegan sehingga menjadi penghalang terselesaikannya review MeloDylan ini. Terima kasih juga kepada temanku tercinta yang bersedia meminjamkan Dylan-nya untuk kupeluk sementara wkwk.

Ok, tanpa banyakin bacot, langsung saja saya kupas tuntas novel best seller karya Asriaci yang berhasil bikin pembacanya jatuh cinta sama tokoh fiksi bernama Dylan.

Just remember guys. This is Dylan, not Dilan.

Kalo Dilan (yang pake I), itu anaknya Ayah Pidi Baiq, bukan Kak Aci.

***

Kisah ini dibuka dengan adegan Melody Alexandria atau yang akrab dipanggil Melody tengah menunggu hujan reda di sebuah cafe sambil ditemani segelas milkshake oreo favoritnya. Hujan yang tak kunjung reda membuatnya gelisah, karena ia tidak bisa pulang padahal jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam.

Ditolehnya ke sekeliling cafe, hingga ia melihat segerombolan cowok di pojok cafe yang sedang asyik mengobrol. Dari segerombolan cowok itu, yang ia tahu hanyalah Dylan Arkana -cowok yang begitu terkenal di sekolahnya-. Tak ada pilihan lain dan bermodalkan nekat juga terpaksa, Melody pun menghampiri meja Dylan dan teman-temannya dengan tujuan agar Dylan mau mengantarkannya pulang.


“Masih aja pada ngebet sama Dylan, udah tau Dylan gak doyan cewek,” [page 9]


Kabar mengenai Dylan yang mengantar pulang Melody menjadi trending topik di sekolahnya. Saking cepatnya menyebar, berita itu pun sampai di telinga Bella. Bella adalah kakak kelas Melody dan juga sahabat Dylan. Dia menjadi satu-satunya cewek yang begitu dekat dengan Dylan dan diperlakukan dengan baik oleh Dylan.


“Gue denger lo nganterin pulang adek kelas kemarin malam?” [page 15]


Entah ketiban sial atau memang karena takdir, Melody malah menjadi sasaran bully siswi-siswi di sekolah yang mendamba sosok Dylan. Sejujurnya, Melody tidak tahu menahu resiko apabila sedang berurusan dengan Dylan. Pasalnya, ia adalah murid baru disana.

Angga Calvin -pacar Anna- mendesak Dylan agar turun tangan meredam topik pembicaraan tersebut di sekolah. Sebenarnya, itu adalah permintaan Anna -sahabat Melody sekaligus sepupu Dylan-. Merasa risih karena Angga terus saja mendesaknya, Dylan pun bersedia membantu cewek itu. Di samping itu, Angga berharap agar Dylan bisa move on dari sosok cewek yang masih saja setia mengisi hati sahabatnya itu.


“... move on bukan berusaha melupakan, tapi mengikhlaskan.” [page 20]


Jika Melody berpikir pindah sekolah akan membuatnya terbebas dari masalah dan bisa melupakan masa lalunya, itu salah besar. Justru, di sekolah barunya, ia mendapat banyak masalah dan selalu saja berhubungan dengan Dylan, seseorang yang berusaha ia hindari belakangan ini.

Pertama, perihal Yugo. Dia adalah sosok cowok yang sedang hangat-hangatnya diperbincangkan di sekolah karena selalu bermasalah dengan Dylan. Kali ini, Yugo tidak langsung berhadapan dengan Dylan, melainkan Melody. Yugo mengungkit berita yang masih hangat dibicarakan -mengenai Dylan yang mengantar pulang Melody-. Karena setahu Yugo, Dylan tidak akan memberi tumpangan pada sembarang orang dan tipikal cewek yang diincar Dylan adalah cewek cantik blasteran, bukan cewek lokalan.


“Lo kasih badan lo kan buat Dylan, makanya dia mau nebengin lo di mobilnya.” [page 32]


Yugo sengaja menggunakan Melody sebagai media untuk menyakiti Dylan. Dengan kurang ajarnya, Yugo mempermalukan Melody di depan umum, tepatnya di kantin. Dylan datang menghampiri Yugo dan menonjok rahangnya.  Namun, Yugo tidak membalas karena ia merasa puas telah memancing emosi Dylan. Ia juga semakin yakin bahwa ada hubungan diantara Melody dan Dylan.

Jadi, siapakah Yugo sebenarnya? Mengapa ia selalu bermasalah dengan Dylan? Dan apa yang telah diperbuat Yugo kepada Melody hingga Dylan marah? Baca kisah lengkapnya hanya di novel.


“Kalau mau populer jangan kampungan.” [page 35]


Kedua, perihal Bianca. Dia adalah senior yang suka mem-bully dan berstatus sebagai pacar Yugo.  Ia melabrak Melody karena menganggap Melody itu anak baru yang sok cantik dan kecentilan. Padahal, Bianca tau kronologi kejadiannya. Wah, jadi apakah ada alasan lain yang mendasari ketidaksukaan Bianca terhadap Melody?


“Kalau gak suka, jangan lihat. Kalau gak tahu, jangan bicara. Kalau gak peduli, jangan menghakimi. Kalau gak bisa memiliki, jangan membenci.” [page 39]


Bagi Dylan, mencintai itu tidak harus memiliki. Dylan menyukai seseorang. Namun, seseorang itu menyukai Fathur. Dulu, ketiganya bersahabat, tapi sebuah keadaan membuat hubungan ketiganya merenggang dan berjauhan. Keadaan diperumit dengan kehadiran sosok baru di tengah-tengah ketiganya. Sosok baru yang perlahan mampu menggeser keberadaan seseorang dalam hati Dylan. Sosok baru yang mampu menyita seluruh ruang kosong di dalam hati Fathur. Siapakah sosok itu?


“Tadi Fathur bilang sama gue, kalo lo adalah orang yang sangat sayang sama gue dan lo pasti mau nerima gue. Tapi, sekarang yang ada di hati lo bukan gue lagi, karena selama ini gue selalu mengabaikan perasaan lo. Seiring berjalannya waktu, perasaan lo mulai menguap dan pindah. Terkadang, waktu bisa menjadi hal yang paling menyakitkan ya, Lan?” [page 133]


Entah apa yang ada di pikiran Dylan saat itu. Katanya, Dylan adalah sosok yang bisa menghargai dan menjaga perasaan peremupuan. Katanya, Dylan adalah tipikal orang setia yang hanya fokus dengan satu perempuan saja. Namun, semua berubah ketika ia berhadapan dengan Melody. Dylan sendiri tidak tahu, perasaan macam apa yang membuatnya begitu ‘gila’ jika bersama Melody. Melody sendiri juga tidak tahu, alasan mengapa Dylan selalu berada di sisinya. Mungkinkah Dylan menyukai Melody? Lalu, bagaimana dengan seseorang yang menjadi cinta pertama Dylan? Sudahkah Dylan menyerah untuk mendapatkan balasan dari seseorang itu? Jika iya, apakah perasaan Dylan benar-benar tulus dan serius terhadap Melody?


“Katanya kamu mau sama aku, kalau mau sini deket aku. Biar kamunya bahagia, dan aku dapat pahala.” [page 167]


Waktu terus berjalan berangsur-angsur. Masalah yang dihadapi Melody mulai terselesaikan, termasuk masalahnya dengan mantan pacarnya. Semua itu tidak luput dari nasihat Dylan. Dylan yang menyuruh Melody berdamai dengan masa lalunya, bukan malah melarikan diri. Niat awal Melody adalah menghindari Dylan, tapi kenapa Dylan malah membantu menyelesaikan masalahnya? Jika seperti ini, quotes “Semua berubah seiring berjalannya waktu” benar adanya bukan?


“Jangan terlalu lama membenci karena pada akhirnya kamu akan lelah sendiri.” [page 201]


Hubungan antara Melody dan Dylan ternyata sudah memiliki kejelasan. Mulanya, hubungan mereka berjalan indah seperti pada umumnya. Namun, di pertengahan, keegoisan dari masing-masing membuat hubungan keduanya tak seindah awalnya lagi. Banyak hal yang sudah terjadi dan mereka pendam selama ini. Hal itu pun akhirnya dijadikan sebagai alasan utama mengapa hubungan mereka tidak baik-baik saja. Benarkah alasan utamanya itu? Apakah ada alasan lain yang menghancurkan hubungan mereka? Bagaimana akhir dari kisah romansa putih abu-abu mereka? Apakah mereka akan menyerah begitu saja tanpa ada usaha mempertahankan?


“Jangan terlalu digenggam erat nanti berkarat, jangan terlalu diberi bebas nanti lepas.” [page 297]


***

GILA!! Saya geregetan banget sama tokoh-tokohnya disini. Kak Aci bener-bener bisa menghidupkan cerita dan sepertinya punya kelebihan menjatuh-bangunkan perasaan pembaca. Sekarang, mari menyebutkan keunggulan dari novel best seller ini.

  • Covernya simple, didominasi warna putih dan oranye dengan aksen selembar daun di tengahnya. Sebenernya, rada kurang ‘ngeh’ gitu, sama maksud daun di covernya itu. Tapi katanya, ini ada teorinya loh.
  • Bahasanya ringan, jadi mudah dipahami oleh pembaca masa kini. HOHO.
  • Gaya penulisan yang disajikan oleh penulis mampu menghidupkan cerita. Jadi, feel-nya terasa banget. Saking terasanya, kalian bisa senyum, kesel, baper, jatuh cinta lagi, nangis, dan lainnya at the same time.
  • Alurnya jelas dan nggak belibet kayak benang layangan.
  • Quote-able sekali, karena di awal bab-nya dibuka dengan quotes-quotes yang mampu menggambarkan isi cerita di dalam bab yang bersangkutan. Selain itu, di dialog dan narasinya juga terselip quotes-quotes bijak. So, ini direkomendasikan untuk kalian yang haus akan quotes.
  • Konfliknya ringan, karena termasuk masalah ‘anak muda banget’. Jadi, kalo kalian lagi ngalamin masalah yang sebelas duabelas dengan tokoh-tokoh di cerita ini, mungkin bisa jadi alternatif penyelesaian, daripada curhat ke temen yang cuma penasaran.
Nggak tau harus nulis apa di poin kelemahannya karena selama membaca novel ini saya nggak merasa terganggu ataupun bingung. Entah karena memang bener-bener nggak ada atau gimana. Tapi, kebanyakan para pembaca yang me-review malah masukin tentang ending di kelemahan.

Jadi, secara garis besar, MeloDylan ini lebih berfokus pada penyelesaian masalah Melody. Kalo kalian merasa kurang pas dengan endingnya, bisa baca ulang sambil diresapi. Kemudian, lanjut ke wattpad buat baca MeloDylan 2 Retrouvailles. Dijamin, perasaan kalian ke Dylan akan berubah dari cinta menjadi benci wkwk.

Oiya, MeloDylan ini rencananya juga bakal naik ke layar lebar loh! Yup! Bakal di-film-in. Tapi, nggak tau kapan dan siapa aja pemerannya. Kalo penasaran, silahkan cek di Instagram @asriaci13 atau  @filmelodylan .

Over all, bintang 5 pas kayaknya buat karya Asriaci ini. Penilaian bersifat objektif dan SAMA SEKALI tidak memiliki niatan untuk menjatuhkan atau membandingkan penulis.

Terima kasih sudah membaca.

Silahkan tinggalkan jejak dengan membubuhkan komentar sebagai penyemangat saya untuk terus menuliskan review.


“Aku membuat banyak alasan, namun pada akhirnya aku hanya takut kehilanganmu.” [page 307]
Continue reading REVIEW + RESENSI NOVEL "MELODYLAN" by Asriaci [Ketika Hati Tidak Bisa Memilih]
,

REVIEW + RESENSI NOVEL "THE FEELINGS" by Vanilla Metzy [Sebuah Rasa Yang Pernah Ada]




Judul  : The Feelings
Penulis : Vanilla Metzy
Penerbit : Best Media
Genre : Fiksi Remaja
Halaman : 360 halaman
Tahun terbit : 2016
ISBN : 978-602-6940-39-1
Harga : Rp 82.000
Rate : 🌟🌟🌟🌟
Blurb :

Denovano Dirta Derova adalah siswa SMA yang banyak kita temui di sekolah-sekolah lain. Badboy? Most-Wanted? Cool? Tampan? Karisma yang tinggi? Fans? Semua ada pada Denovano.

Hidup Deno sebelumnya datar dan tidak ada yang menarik. Hal tersebut lantas membuatnya menjadi pribadi yang sedikit dingin juga tidak banyak berbicara. Tetapi sebelum pertemuannya dengan cewek polos dan cerewet di sebuah pusat perbelanjaan yang membuatnya harus banyak berbicara menghadapi sikap cewek tersebut. Apakah yang terjadi pada Denovano selanjutnya?


***


Sebelum review, seperti biasalah, mari kita berbasa-basi dulu.

Ok, jadi awal mula tau “The Feelings” ini dari hasil rekomendasi teman sekelas saya. Dia pinjam ke temennya, lalu spoiler ke saya. Cukup lama merekomendasikannya, kalo nggak salah pas saya kelas 10 dan baru kesampean baca sekarang -pas kelas 11-. Maklumlah, ini novel pinjem, jadi harus antri dulu sama yang lain wkwk.

Cukup segitu aja, basa-basinya ya? Langsung saja, mari baca review-nya.


***


Denovano Dirta Derova atau yang biasa dipanggil Deno adalah anak dari pemilik sekolah. Ia menjadi sorotan murid-murid SMA Perwira setiap harinya. Deno memiliki 3 sahabat, yaitu Dimas, Ariz, dan Putra. Banyak siswa yang menyebut mereka adalah geng. Namun, bagi Deno mereka bukanlah geng, melainkan sahabat.

Sebenarnya, ada 3 kelompok lain selain kelompok Deno yang terkenal di SMA Perwira. Pertama, kelompok Deva, yang beranggotakan Deva, Gio, Rian, dan Rizky. Berbeda dengan Deno, Deva malah menganggap perkumpulan mereka tersebut sebagai geng. Kedua, kelompok Audina yang beranggotakan Audina, Caca, Alya, dan Nera. Terakhir, kelompok Poppy yang selalu bertengkar dengan kelompok Audina dan seisi sekolah juga mengetahui peperangan sengit di antara mereka yang tidak pernah berakhir.

Sama halnya dengan Audina dan Poppy, peperangan sengit juga terjadi antara Deno dan Deva. Seisi sekolahpun juga mengetahui bahwa mereka telah berperang dingin sejak kelas X. Deva yang selalu memancing kemarahan Deno dan hanya ditanggapi dengan acuh tak acuh oleh lawannya.

Awalnya, kehidupan yang Deno jalani sangatlah datar. Hingga sebuah kejadian konyol dan memalukan terjadi ketika ia menjemput adiknya, yaitu Alya di sebuah pusat perbelanjaan. Kejadian tersebut membuatnya mau tak mau harus mengenal sosok Audina Scerava Fellano, gadis polos dan cerewet.


“Maaf, gue salah mobil—mobil lo sama mobil abang gue sama,” [page 15]


Semenjak kejadian memalukan itu, Audina kerap kali hadir untuk memberi warna pada hidup Deno. Audina yang ceroboh dan tidak hati-hati seringkali merepotkan Deno. Deno sendiri tidak tahu, alasan mengapa ia selalu muncul dan membantu Audina. Yang pasti, Deno dengan sikap jutek nan dinginnya sebisa mungkin menepis rasa pedulinya terhadap Audina. Namun, hati kecilnya selalu saja memberi penolakan.


“Ingat, Deno, berhenti peduli!” [page 65]


Audina mendesak Deno agar mau menerimanya sebagai seorang teman. Deno mengatakan bahwa rasa percayanya dihancurkan oleh seseorang. Dengan senang hati, Audina menawarakan diri dan meminta izin pada Deno untuk membangun kembali rasa kepercayaannya.


“Kalau kepercayaan lo udah hancur, gue boleh gak, No, ngebuktiin ke lo kalau gue bisa--” Dina menarik napasnya, lalu membuangnya secara perlahan, “—ngebuat lo percaya sama gue?” [page 80]


Hari demi hari terlewati. Kedekatan Deno dengan Audina semakin erat tetapi hanya sebatas teman. Namun, Audina menyadari satu hal, bahwa ia memiliki perasaan lebih terhadap Deno. Bukan hanya Audina, Deno pun juga merasakan desiran aneh yang datang saat ia berada di dekat Audina.


“Gak seharusnya gue cemburu sama Deno. Gue kan cuma temen yang berusaha ngebuat rasa percaya Deno tumbuh lagi. Udah, itu aja.” [page 104]


Saat Audina mulai berhasil menumbuhkan kepercayaan dalam diri Deno, di saat itu pula orang yang telah mengahancurkan kepercayaannya kembali hadir dalam kehidupan Deno. Hidup Deno yang berangsur-angsur mulai membaik kala kedatangan Audina, kembali terusik. Ditambah dengan sebuah rahasia besar yang sekian lama disembunyikan oleh Deno terungkap dan secara otomatis memengaruhi kedekatan hubungannya dengan Audina.


“Jangan dengerin apa kata mereka. Mereka cuma iri sama kita. Kalau ada berita negatif, kita selesain sama-sama. Kalau ada masalah, cerita sama gue. Mungkin Cuma itu yang bisa gue lakuin buat lo. Buat kita.” [page 238]


Dalam perjalanan hidup memang selalu datang masalah yang senantiasa menghalangi langkah kita menuju ke depan atau bahkan mungkin menghancurkan dan memporak-porandakan tujuan hidup kita. Jika berhasil menyelesaikannya, mungkin kita dapat bersantai sejenak, tapi bukankah roda kehidupan itu selalu berputar dan masalah-masalah baru pasti akan datang silih berganti? Bagaimana jika masalah itu datang dari orang terdekat yang mengharuskan keduannya untuk berpisah dalam jangka waktu yang tidak dapat ditentukan?


“Apa lo sadar kalau gue mulai menjauh dari jangkauan lo, De?” [page 277]


Suatu kenyataan pahit harus dihadapi oleh Deno dan Audina. Sekeras apapun keduanya menolak kenyataan tersebut, sebuah keputusan yang tepat harus segera diambil. Deno yang tiba-tiba pergi ke luar negeri harus berjauhan dengan Audina.


“Lo yang ngebuat rasa percaya gue tumbuh lagi, dan sekarang lo yang ngerusak rasa percaya gue dengan mudahnya.” [page 293]


Deno pergi tanpa memberi alasan yang jelas kepada Audina. Ditambah lagi dengan kesan terakhir Audina pada Deno sebelum kepergiannya ke luar negeri yang terbilang buruk, bahkan sangat buruk membuat Audina semakin terpuruk.


“Kesan terakhir lo buruk banget sama Deno,” sambung Ariz. [page 307]


Siang berganti malam, hari berganti hari, tahun berganti tahun. Tidak terasa, sudah 2 tahun Audina dan Deno berjauhan, yang membuat keduanya stress sendiri. Deno dengan kehidupannya yang baru, begitu pula dengan Audina. Namun, meski telah memiliki kehidupan yang baru, keduanya sama-sama tidak bisa menghapus masa lalu. Hingga pada akhirnya, Tuhan kembali mempertemukan keduanya di sebuah acara yang diselenggarakan oleh sahabatnya.


“I don’t know why I’m so afraid to lose you, when you’re not even mine.” [page 310]


Ini bukanlah akhir dari segalanya. Bukan sebuah akhir dari kisah Deno dan Audina. Masih banyak kelanjutan kisah keduanya yang masih harus kalian baca. Lantas, bagaimanakah kelanjutan kisah mereka setelah dipertemukan kembali? Masihkah sama seperti sedia kala? Atau sudahkah berubah seiring berjalannya waktu?


“Jika kamu mengambil sebuah keputusan yang mampu membuatmu terluka demi seseorang yang berharga di dalam hidupmu, maka kebahagiaanmu yang sempat tertunda akan mengahampirimu dengan cara yang tak terduga.” [page 345]


***


Di bagian awal ceritanya, kelihatan klise banget. Tapi, ketika sudah memasuki bagian konflik, WOW! It’s an amazing fiction story, karena karakter tokoh makin kuat. Konfliknya juga nggak seberat rindu yang kayak kata Dilan, sehingga nggak memusingkan pembaca. Penyuguhan dialog antar tokohnya juga easy-reading, terutama dialog sahabat-sahabatnya Deno yang “najisin”. HAHA!


“Gue kira lo kaya Hekal, kerasukan setan karena pipis sembarangan!” [page 20]


Selain itu, gaya penulisannya “jaman now” banget alias nggak baku, sehingga nggak ribet buat berimajinasi. Meskipun ditulis, saya masih bisa membayangkan chemistry antara dua tokoh utamanya. Terdapat quotes-quotes sebagai pembukaan di beberapa bab-nya. Dari segi fisik, covernya cukup simple dan menarik. Warnanya biru dan ada kesan abstrak-abstraknya gitu.

Di sisi lain, masih ada suatu hal yang disayangkan dari novel ini. Nggak banyak sih, hanya satu saja, yaitu masih ada beberapa pengulangan kata yang membuat kalimatnya terlalu bertele-tele. Namun, itu tidak menjadi penghalang bagi pembaca dalam menikmati novel ini. Terbukti, saya masih bisa meneteskan air mata dan berkeinginan mencakar wajah seseorang karena geregetan.

Jadi, rate 4 saya rasa cucok meong buat novel karya Vanilla Metzy ini.

Tetaplah menjadi generasi muda bangsa Indonesia yang suka membaca!

Terima kasih sudah menilik tulisan ini.
Continue reading REVIEW + RESENSI NOVEL "THE FEELINGS" by Vanilla Metzy [Sebuah Rasa Yang Pernah Ada]